Cloud deployment model adalah kerangka kerja dalam cloud computing yang menggambarkan bagaimana layanan cloud dikembangkan, diakses, dan dikelola oleh pengguna. Model ini menentukan kepemilikan infrastruktur, lokasi penyimpanan data, serta tingkat kontrol dan keamanan siber yang dapat dijalankan.

Artikel ini membahas berbagai jenis cloud deployment model, kelebihan dan kekurangannya, serta strategi penerapannya secara praktis. Simak penjelasannya di bawah ini!

Apa itu Cloud Deployment Model? Jenis & Strategi Penerapannya

Apa Saja Jenis Cloud Deployment Model?

Sebelum membangun sistem cloud yang sesuai, penting bagi Anda untuk memahami berbagai jenis cloud deployment model. Setiap model memiliki karakteristik tersendiri dalam hal kontrol, efisiensi biaya, dan tingkat privasi data. Berikut beberapa jenisnya:

1. Public Cloud

Public cloud merupakan model di mana penyedia pihak ketiga mengelola infrastruktur dan sumber daya, dan pengguna mengaksesnya melalui jaringan internet secara terbuka.

Kelebihan:

  • Hemat biaya karena tidak perlu investasi hardware sendiri.
  • Scalable untuk mengakomodasi kebutuhan yang dinamis.
  • Tidak perlu menangani update software dan infrastruktur.
  • Ideal untuk workload bersifat temporer atau musiman.

Kekurangan:

  • Kontrol terhadap data dan konfigurasi infrastruktur terbatas.
  • Risiko keamanan siber lebih tinggi karena berbagi sumber daya dengan pengguna lain.
  • Kurang sesuai untuk data yang bersifat sensitif atau yang memerlukan kepatuhan ketat.

Baca Juga: Mengenal Keamanan Cloud Computing: Strategi Melindungi Data dengan Efektif

2. Private Cloud

Private cloud menyediakan lingkungan cloud khusus untuk satu perusahaan. Infrastruktur bisa dikelola internal atau melalui vendor IT terpercaya.

Kelebihan:

  • Privasi dan keamanan siber lebih terjaga.
  • Kontrol penuh atas software dan hardware.
  • Dapat disesuaikan dengan kebijakan internal dan kepatuhan regulasi.

Kekurangan:

  • Biaya implementasi dan pemeliharaan lebih tinggi.
  • Skalabilitas tidak sefleksibel public cloud.
  • Memerlukan sumber daya teknis internal.

3. Hybrid Cloud

Hybrid cloud merupakan kombinasi dari public dan private cloud, memungkinkan data dan aplikasi berpindah antar keduanya sesuai kebutuhan.

Kelebihan:

  • Fleksibel dalam mengatur workload dan lokasi penyimpanan data.
  • Efisiensi biaya dengan tetap menjaga privasi data penting.
  • Mendukung strategi recovery dan distribusi beban kerja.

Kekurangan:

  • Integrasi antar platform membutuhkan manajemen yang baik.
  • Kompleksitas pengelolaan lebih tinggi.
  • Memerlukan sistem keamanan siber yang konsisten di dua lingkungan cloud.

4. Community Cloud

Community cloud adalah infrastruktur cloud yang digunakan oleh beberapa perusahaan yang memiliki kepentingan atau regulasi serupa.

Kelebihan:

  • Sumber daya dan biaya dibagi antar pengguna yang memiliki tujuan serupa.
  • Cocok untuk sektor dengan regulasi ketat seperti pendidikan atau kesehatan.
  • Lebih tepercaya dan scalable dibanding public cloud.

Kekurangan:

  • Pengelolaan dan koordinasi antar pengguna perlu disepakati bersama.
  • Skalabilitas dan fleksibilitas bisa lebih terbatas.
  • Biaya lebih tinggi daripada public cloud, namun lebih rendah dari private cloud.

Baca Juga: SD-WAN: Fungsi dan Cara Kerjanya untuk Optimalisasi Jaringan Modern


Perbandingan Cloud Deployment Model

Supaya Anda lebih mudah memahaminya, simak perbandingannya melalui tabel berikut ini:

Aspek Public Cloud Private Cloud Hybrid Cloud Community Cloud
Kepemilikan Vendor IT Perusahaan Gabungan Kolektif
Skalabilitas Sangat tinggi Terbatas Tinggi Sedang
Biaya Rendah Tinggi Sedang Sedang
Keamanan Siber Umumnya rendah–sedang Tinggi Tinggi Sedang hingga tinggi
Kontrol Infrastruktur Terbatas Penuh Disesuaikan Disesuaikan
Kesesuaian Regulasi Terbatas Optimal Fleksibel Disesuaikan

Strategi Penerapan Cloud Deployment Model

Pemilihan cloud deployment model yang tepat harus diselaraskan dengan strategi operasional dan tujuan jangka panjang perusahaan.

Berikut strategi penerapan yang bisa menjadi referensi Anda:

1. Analisis Kebutuhan Aplikasi dan Data

Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap jenis aplikasi, volume data, dan tingkat sensitivitas informasi. Hal ini akan membantu Anda menentukan model deployment yang tepat, apakah perlu hybrid untuk fleksibilitas atau private cloud untuk kontrol maksimal.

2. Perhatikan Aspek Keamanan Siber dan Regulasi

Penerapan cloud harus mempertimbangkan standar keamanan siber dan regulasi yang berlaku. Jika perusahaan Anda beroperasi di sektor dengan kebijakan ketat, seperti keuangan atau pemerintahan, private atau hybrid cloud dapat memberikan proteksi yang lebih sesuai.

3. Terapkan Secara Bertahap dan Terukur

Gunakan pendekatan bertahap dengan memigrasikan workload non-kritis terlebih dahulu ke cloud. Pendekatan ini mengurangi downtime dan memungkinkan penyesuaian teknis secara bertahap.

4. Optimalkan Penggunaan Alat Manajemen Terpusat

Gunakan platform manajemen cloud yang dapat mengintegrasikan berbagai lingkungan cloud dalam satu antarmuka. Ini sangat penting untuk model hybrid agar workload tetap sinkron dan performa optimal.

Baca Juga: 9 Jenis-Jenis Proxy Server, Kelebihan, dan Kekurangannya

5. Pilih Vendor IT yang Terpercaya dan Berpengalaman

Bekerja sama dengan vendor IT yang memiliki rekam jejak kuat sangat krusial. Pastikan mereka menawarkan teknologi canggih, mendukung container dan VM, serta mampu memberikan platform manajemen yang scalable dan efisien.

Memahami dan menerapkan cloud deployment model secara presisi akan membantu perusahaan Anda dalam mengoptimalkan performa digital, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta menjaga keamanan siber.

Jika Anda menginginkan fleksibilitas tinggi dan kontrol penuh atas sistem cloud tanpa mengorbankan efisiensi, solusi hybrid cloud dari Sangfor dapat menjadi opsi yang sangat tepat.


Solusi Hybrid Cloud Terbaik dari Sangfor untuk Perusahaan Anda!

Menjawab kebutuhan cloud yang semakin kompleks, Sangfor Hybrid Cloud Computing hadir sebagai solusi tepat untuk menjalankan aplikasi secara on-premise maupun off-premise dengan efisiensi optimal.

Didukung oleh Next Generation Converged Digital Infrastructure (NG-CDI), Sangfor hadir dengan platform cloud yang mendukung baik VM maupun container dalam satu arsitektur yang konsisten.

Dengan arsitektur hybrid cloud yang homogen dan manajemen cloud terpusat, Anda dapat dengan mudah merancang workload, menjaga konsistensi sistem, dan mempercepat adopsi cloud secara efisien.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Sangfor Hybrid Cloud Computing, segera kontak tim Sangfor dan temukan solusi cloud yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda!

Search

Related Glossaries

Cloud and Infrastructure

Virtualisasi Server: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

Date : 09 Jul 2025
Read Now
Cloud and Infrastructure

What Is Virtualization Software: A Comprehensive Guide to Architecture and Role

Date : 15 Dec 2025
Read Now
Cloud and Infrastructure

Data Center Architecture: Designing for Scalability, Efficiency, and Future-Readiness

Date : 02 Apr 2025
Read Now

See Other Product

Sangfor Application Delivery (AD) Product Series
VMware Replacement
Sangfor Kubernetes Engine (SKE)
Sangfor Database Management Platform (DMP)
aStor
Sangfor HCI - Hyperconverged Infrastructure