Ringkas artikel blog ini dengan AI:
Tim IT sering kali sudah kewalahan mengurus server yang tersebar di banyak rak, storage yang terpisah-pisah, dan jaringan yang makin ruwet dari waktu ke waktu. Di saat yang sama, biaya operasional untuk memelihara semua komponen itu terus naik tanpa kejelasan kapan akan berhenti. Kombinasi kedua masalah ini biasanya jadi sinyal bahwa infrastruktur IT perusahaan sudah butuh pendekatan yang berbeda.
Salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah Hyper-Converged Infrastructure (HCI) yang bisa membantu mengintegrasikan komponen infrastruktur IT ke dalam satu platform dan membuat pengelolaannya menjadi lebih sederhana dan efisien.
Terlepas dari keunggulan yang ditawarkan, mungkin perusahaan belum mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mulai mengadopsi HCI. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk mengenali tanda-tanda bahwa infrastruktur IT yang digunakan sudah saatnya ditingkatkan.
Lantas, kapan sebenarnya perusahaan perlu mulai mempertimbangkan penggunaannya? Begini cara mengetahui kapan perusahaan butuh HCI.
Baca juga:
Tanda-Tanda Sistem IT Perusahaan Sudah Mulai Membutuhkan HCI
1. Pengelolaan sistem semakin kompleks
Selama ini, banyak perusahaan yang masih menggunakan model tradisional dalam pengelolaan data center. Setiap komponen dibuat berdiri sendiri dan terpisah, mulai dari server, penyimpanan data, sampai jaringan. Cara lama juga masih mengandalkan pendekatan hardware-based yang kurang fleksibel, sehingga kompleksitasnya pun semakin terasa seiring meningkatnya kebutuhan digital.
Dari masalah tersebut, HCI bisa dijadikan solusi. Berbeda dari model tradisional yang mengelola berbagai komponen secara terpisah, HCI bakal menghilangkan kompleksitas yang ada dengan satu manajemen terpusat untuk mengendalikan semua infrastruktur. Hasilnya, pengelolaan sistem akan jauh lebih sederhana sekaligus efisien. Tim IT pun bakal berkurang beban operasionalnya karena tidak perlu lagi memiliki tim khusus untuk menangani compute, storage, dan networking secara terpisah.
Untuk memahami lebih detail bagaimana mekanisme integrasi ini berjalan, penjelasan lengkap mengenai cara kerja HCI bisa membantu memberi gambaran yang lebih jelas.
2. Biaya operasional terus meningkat
Biaya infrastruktur IT akan terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan bisnis. Mulai dari pengadaan server, storage, jaringan, dan lain-lain, semuanya dapat membebani anggaran perusahaan jika tidak dikelola dengan baik.
Dari masalah tadi, HCI bisa dipertimbangkan. Dengan pengelolaannya yang jauh lebih sederhana, HCI akan membantu perusahaan mengurangi biaya operasional karena sistemnya sudah terintegrasi dan kebutuhan perangkat tambahannya menjadi lebih sedikit. Selain itu, HCI juga memungkinkan konsolidasi sumber daya yang membuat penggunaan server dan kapasitas penyimpanannya lebih optimal. Bersama pengelolaan yang lebih efisien, perusahaan berpotensi mengurangi biaya operasional, bahkan untuk jangka panjang.
3. Sulit mengikuti pertumbuhan bisnis
Perusahaan yang terus berkembang biasanya membutuhkan kapasitas infrastruktur yang ikut bertambah. Misal ketika membuka cabang baru, menambah aplikasi bisnis, atau meningkatkan layanan digital kepada pelanggan. Masalahnya, infrastruktur yang terlalu kompleks kerap membuat proses pengembangan sistem menjadi lebih lambat, sehingga perusahaan pun kesulitan menyesuaikan kebutuhan bisnis yang terus berkembang.
Sebagai alternatif, HCI punya keunggulan berkat desainnya yang modular. Jadi, saat kebutuhan penyimpanan atau daya komputasi meningkat, perusahaan cukup menambahkan node baru tanpa harus merombak infrastruktur yang sudah ada. Hal ini membuat proses pengembangan kapasitasnya menjadi lebih mudah, cepat, dan dapat disesuaikan dengan laju pertumbuhan bisnis.
4. Tim IT terlalu banyak menangani pekerjaan operasional
Dalam jangka panjang, kinerja tim IT bisa terganggu jika terlalu banyak menangani pekerjaan operasional. Kondisinya juga dapat mengurangi fokus tim terhadap pengembangan teknologi yang mendukung pertumbuhan bisnis kedepannya.
Sebagai solusi, HCI didukung berbagai fitur otomatisasi yang akan membantu proses penyediaan sumber daya (provisioning) dan pengelolaan sistem. Berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan secara manual nantinya dapat dikerjakan dengan lebih cepat dan efisien melalui otomatisasi. Hasilnya, tim bisa lebih fokus pada pengembangan strategi dan inovasi, sementara risiko kesalahan akibat proses manual juga dapat diminimalkan.
5. Risiko kehilangan data tinggi
Semakin kompleks suatu infrastruktur, semakin besar pula kemungkinan terjadinya gangguan layanan. Nah, salah satu dampak terburuk dari downtime sendiri bisa berupa kehilangan data.
Sebagai solusi, HCI dilengkapi dengan kemampuan backup dan pemulihan yang membantu menjaga keamanan data serta kelangsungan operasional bisnis. Karena seluruh infrastruktur dikelola dalam satu platform, perusahaan dapat melakukan pengelolaan risiko secara lebih efektif dan terkoordinasi.
Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Memutuskan Investasi HCI
Peralihan menuju Hyper-Converged Infrastructure (HCI) merupakan keputusan strategis. Maka, perusahaan perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum benar-benar menentukan arah kedepannya. Untuk itu, berikut ini sejumlah hal yang perlu dijawab sebelum memutuskan untuk investasi HCI.
1. Apakah infrastruktur saat ini masih mampu mendukung rencana bisnis?
Pertama, perusahaan perlu tahu apakah sistem yang digunakan saat ini masih mampu mengikuti target pertumbuhan perusahaan untuk jangka panjang. Jika didapati masalah seperti pengelolaannya yang terlalu rumit, maka evaluasi terhadap infrastruktur menjadi langkah yang penting.
Dalam kondisi seperti itu, HCI bisa menjadi pilihan tepat karena bisa membantu menyederhanakan kompleksitas pengelolaan infrastruktur IT. Dengan model ini, semua komponen seperti storage, server, hingga jaringan nantinya akan dikelola dalam satu sistem terpadu.
2. Apakah biaya operasional terus meningkat?
Selain harga pembelian hardware, perusahaan juga perlu menghitung biaya pemeliharaan, lisensi, konsumsi daya, hingga waktu kerja tim IT. Jika terus meningkat tanpa adanya timbal balik yang sepadan, berarti perlu adanya evaluasi.
Dari situ, perusahaan bisa mempertimbangkan HCI untuk membantu efisiensi biaya. Mengingat pengelolaannya yang mengkonsolidasikan server, penyimpanan, dan jaringan ke dalam satu appliance standar (x86), perusahaan dapat memangkas biaya pengadaan hardware. Pengurangan jumlah fisik rak server juga berdampak langsung pada penghematan konsumsi listrik, sistem pendingin, dan ruang lain di data center.
3. Seberapa besar dampak jika sistem mengalami gangguan?
Bagi perusahaan, gangguan pada sistem IT tidak hanya menghambat operasional, tetapi juga berpotensi menimbulkan resiko kehilangan data. Maka, perusahaan mungkin perlu melakukan evaluasi untuk menentukan pengganti yang tepat.
Jika perlu mengganti sistem, salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah HCI. Arsitekturnya dirancang untuk menjaga layanan tetap berjalan meskipun terjadi gangguan pada salah satu komponen sistem, sehingga risiko downtime dapat diminimalkan. Selain itu, HCI juga telah dilengkapi dengan fitur backup dan disaster recovery yang terintegrasi untuk membantu melindungi data penting sekaligus mempercepat proses pemulihan ketika terjadi gangguan.
4. Apakah perusahaan memiliki rencana transformasi bisnis?
Bagi perusahaan yang memiliki rencana transformasi bisnis ke depannya, kesiapan infrastruktur IT perlu menjadi perhatian sejak awal. Infrastruktur yang sulit dikembangkan dapat menghambat implementasi tersebut dan membuat perusahaan lebih lambat beradaptasi dengan perubahan.
Dalam kondisi seperti itu, Hyper-Converged Infrastructure (HCI) dapat menjadi alternatif yang tepat. Dengan pengelolaan yang terpusat dan kemampuan menambah kapasitas secara bertahap, HCI akan membantu perusahaan membangun infrastruktur yang lebih fleksibel untuk mendukung transformasi bisnis. Selain itu, HCI juga dapat menjadi langkah awal bagi organisasi yang ingin beralih ke lingkungan cloud karena mengadopsi konsep virtualisasi dan manajemen yang lebih terintegrasi.
Baca juga:
Risiko Jika Salah Memilih Investasi Infrastruktur IT
Keputusan terkait infrastruktur IT merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting. Berikut ini sejumlah risiko yang bisa muncul jika sampai salah memilihnya.
- Investasi tidak memberi hasil yang diharapkan — Investasi infrastruktur IT seharusnya mendukung efisiensi dan pertumbuhan bisnis. Jika solusi yang dipilih tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, biaya yang dikeluarkan bisa menjadi kurang optimal karena manfaat yang diperoleh tidak sebanding dengan nilai investasinya.
- Infrastruktur sulit berkembang — Kebutuhan bisnis bisa jadi akan terus berubah seiring tumbuhnya perusahaan. Masalahnya, ketika infrastruktur yang dipakai tidak cukup fleksibel, setiap inisiatif baru yang hendak diimplementasikan bakal membutuhkan waktu lama dan tambahan biaya serta tenaga lebih besar.
- Beban operasional tetap tinggi — Salah satu tujuan pembaruan infrastruktur IT adalah meningkatkan efisiensi. Namun, jika solusi yang dipilih masih memerlukan pengelolaan yang rumit, maka biaya dan beban kerja tim IT tidak akan banyak berubah. Akibatnya, manfaat investasi tidak dapat dirasakan secara maksimal.
- Produktivitas tim IT tidak meningkat — Salah satu tujuan pembaruan infrastruktur IT adalah menyederhanakan pengelolaan sistem. Apabila solusi yang dipilih masih kompleks, tim IT akan tetap disibukkan dengan pekerjaan operasional, sehingga memiliki lebih sedikit waktu untuk mendukung inovasi bisnis.
Jadi, Kapan Waktu yang Tepat Bagi Perusahaan Butuh HCI?
Ketika sistem IT mulai terasa semakin rumit dan mahal untuk dikelola, itu bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu mulai mengevaluasi infrastruktur yang digunakan. Jika memang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda, HCI bisa menjadi opsi bagus yang layak dipertimbangkan.
Saat ini, ada cukup banyak vendor yang menyediakan solusi HCI dengan pendekatan yang terintegrasi, termasuk Sangfor, untuk membangun infrastruktur yang lebih sederhana, efisien, dan siap mendukung pertumbuhan bisnis kedepannya.