Dampak transformasi digital semakin terasa seiring melonjaknya ancaman siber. Sepanjang 2023, Indonesia mencatat lebih dari 1,6 miliar serangan siber menurut BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), yang berpotensi membahayakan keamanan data dan bisnis.
Simak di bawah ini dampak yang perlu Anda ketahui dan cara mengatasinya.

Kapan Transformasi Digital di Indonesia Dimulai?
Di Indonesia, tren transformasi digital mulai masif sekitar tahun 2010-an, seiring dengan penggunaan internet dan perkembangan teknologi mobile yang semakin luas. Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi akselerator utama.
Banyak organisasi yang sebelumnya mengandalkan sistem manual, terpaksa beralih ke sistem digital untuk tetap bertahan, mulai dari kerja jarak jauh, layanan pelanggan online, hingga e-commerce.
Namun, percepatan ini juga membawa tantangan baru, yaitu risiko keamanan data. Semakin banyak proses yang terdigitalisasi, semakin besar potensi kebocoran informasi sensitif, serangan siber, dan penyalahgunaan data.
Oleh karena itu, setiap langkah transformasi digital harus disertai strategi keamanan siber yang matang.
Baca Juga: 7 Manfaat ZTNA (Zero Trust Network Access) dan Konsepnya
Dampak Transformasi Digital terhadap Keamanan Siber di Indonesia
Transformasi digital yang pesat di Indonesia, dengan 215,63 juta pengguna internet pada 2022-2023 (APJII), membawa peluang sekaligus ancaman. Meningkatnya aktivitas online dan penggunaan teknologi menempatkan keamanan data sebagai prioritas utama.
Namun, kenyataannya, maraknya serangan siber menunjukkan banyak vulnerability yang belum tertangani. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan:
1. Meningkatnya Risiko Kebocoran Data
Pertumbuhan pengguna internet yang masif membuat volume data pribadi dan bisnis semakin besar. Sayangnya, pengelolaan keamanan masih lemah, sehingga serangan malware dan pencurian data menjadi ancaman utama yang disoroti oleh BSSN.
2. Tantangan Koordinasi dalam Penanganan Ancaman Siber
Menurut Lemhannas RI, kecepatan investigasi dan koordinasi antar instansi masih rendah. Akibatnya, respons terhadap serangan sering terlambat, sehingga dampaknya semakin meluas dan sulit dikendalikan.
3. Kesenjangan Kapabilitas Keamanan Siber
Transformasi digital berjalan cepat, tetapi banyak organisasi yang belum memiliki tim cyber security yang memadai.
Ignasius Oky sebagai SIEM Product Manager Multipolar Technology, menekankan pentingnya membangun kompetensi agar serangan tidak dibiarkan berkembang seperti “wabah”. Tujuannya untuk mencegah dampak yang lebih luas.
4. Serangan yang Bersifat Teknis dan Sosial
Ancaman siber bukan hanya soal teknologi. BSSN mencatat adanya serangan sosial menjelang pemilu, seperti manipulasi informasi untuk menciptakan kekacauan. Ini menunjukkan bahwa keamanan digital juga berkaitan dengan stabilitas sosial dan politik.
Contoh Kasus Serangan Siber di Indonesia pada Sektor Pemerintahan
Pada Juni 2024, Indonesia mengalami salah satu serangan siber terbesar yang menargetkan infrastruktur pemerintahan. Ransomware LockBit 3.0 menyerang Pusat Data Nasional (PDNS) di Surabaya dan berdampak pada ratusan instansi pemerintah.
Berikut poin penting dari insiden ini:
- Target Serangan: PDNS dan berbagai instansi pemerintah.
- Dampak: Layanan publik lumpuh, termasuk imigrasi dan operasional bandara.
- Jumlah Instansi Terdampak: Sekitar 160–230 instansi pemerintah.
- Modus Operandi: Pelaku meminta tebusan USD 8 juta agar data dipulihkan.
- Respons Pemerintah: Menolak membayar tebusan dan memutus akses eksternal ke PDNS.
Penyebab serangan siber ini terjadi:
- Serangan ransomware ini berhasil masuk dan menginfeksi sistem inti sebelum terdeteksi.
- Proses pemulihan berjalan lambat karena minimnya mekanisme respons otomatis.
Insiden ini menunjukkan pentingnya pemantauan real-time terhadap jaringan dan endpoint agar ancaman siber bisa dicegah sebelum meluas.
Baca Juga: 7 Fungsi Data Center untuk Bisnis Digital
Upaya Mengatasi Serangan Siber yang Dilakukan Pemerintah Indonesia
Dalam FGD yang digelar Korlantas Polri bersama BSSN dan Komdigi, berbagai strategi penting pun dibahas. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan:
1. Memperkuat Tata Kelola IT dan Pemisahan Hak Akses
Pisahkan hak admin dan terapkan kontrol yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan. Audit sistem rutin juga penting untuk mendeteksi kebocoran atau aktivitas mencurigakan sejak dini.
2. Meningkatkan Edukasi dan Kesadaran SDM
Human error masih menjadi penyebab utama kebocoran data. Melakukan pelatihan sumber daya mulai dari pengetahuan dasar hingga teknik lanjutan agar lebih waspada terhadap risiko siber.
3. Melakukan Security Assessment dan Identifikasi Aset Digital
Lakukan assessment berkala terhadap infrastruktur teknologi dan identifikasi aset digital yang paling berisiko, sehingga organisasi bisa memperkuat titik lemah lebih cepat.
4. Mengelola Risiko Teknologi Baru seperti AI
Pemanfaatan AI membawa kemudahan sekaligus tantangan. Terapkan prinsip people-process-technology agar teknologi baru digunakan dengan aman dan sesuai regulasi.
5. Mengantisipasi Serangan Phishing dan Social Engineering
Serangan berbasis phising masih dominan. Tingkatkan literasi digital pegawai dan lakukan simulasi phishing agar lebih sigap menghadapi potensi kebocoran data.
6. Memperkuat Kolaborasi Lintas Instansi dan Pihak Ketiga
Ancaman siber tidak bisa dihadapi sendiri. Sinergi antar lembaga dan pihak ketiga, termasuk penyedia solusi keamanan sangatlah penting untuk memberikan respons cepat dan perlindungan menyeluruh.
Sangfor Athena MDR: Solusi Memperkuat Keamanan Siber di Era Transformasi Digital
Di tengah meningkatnya ancaman siber di era digital, organisasi membutuhkan solusi yang mampu mendeteksi, merespons, dan memulihkan serangan dengan cepat. Sangfor Athena MDR hadir untuk menjawab tantangan ini. Berikut fitur-fitur utama yang menjadikannya solusi ideal:
1. Monitoring Real-Time 24/7
Athena MDR memiliki tim yang siaga sepanjang waktu untuk menjaga jaringan dan perangkat Anda. Notifikasi yang telah terverifikasi menggabungkan sistem deteksi berbasiskan teknologi dan analisis manual oleh tim SOC.
Hasilnya:
- Notifikasi palsu tersaring sebelum mengganggu tim IT internal.
- Ancaman nyata segera ditangani.
Dengan pendekatan ini, tim internal Anda terbebas dari ribuan alert harian dan dapat fokus pada isu strategis.
2. Deteksi Ancaman dengan AI & XDR
Athena MDR memanfaatkan berbagai teknologi, salah satunya adalah Sangfor XDR yang dilengkapi teknologi berbasis AI (Sangfor Security GPT).
Keunggulannya:
- Deteksi berlapis untuk hasil akurat.
- Hampir nol notifikasi palsu.
- Tidak perlu konfigurasi tambahan, semua diurus oleh tim MDR.
Organisasi pun dapat menjaga kelancaran operasional tanpa gangguan dari serangan tersembunyi.
3. Visibilitas Ancaman yang Terintegrasi
Athena MDR menggabungkan data dari endpoint, jaringan, dan threat intelligence global.
Manfaatnya:
- Gambaran lengkap situasi keamanan dalam satu dashboard.
- Blind spot diminimalisir
- Pengambilan keputusan jadi lebih cepat dan tepat.
4. Respons Cepat dan Pemulihan Efektif
Begitu ancaman terdeteksi, tim MDR langsung bertindak sesuai prosedur, misalnya:
- Memutus koneksi perangkat terinfeksi.
- Menghentikan aktivitas mencurigakan.
Jika diperlukan, tim kami juga mendampingi staf internal untuk pemulihan jarak jauh hingga sistem kembali normal.
5. Dukungan Khusus dan Akses Komunikasi Fleksibel
Setiap organisasi mendapat Customer Success Manager khusus dan akses komunikasi langsung via:
- Chat instan
- Telepon
Selain itu, tersedia portal MDR dengan tampilan sederhana berisi data penting dan update terbaru agar transparansi tetap terjaga.
Bagaimana Cara Kerja Sangfor Athena MDR?
Athena MDR hadir untuk memberikan notifikasi ancaman siber yang akurat sekaligus mendampingi proses respons ketika ancaman terdeteksi dalam sistem Anda. Layanan ini dijalankan melalui dua tahapan utama:
1. Pre-Service Onboarding
Tahap awal berupa penilaian kondisi sistem dilakukan secara sederhana untuk memahami lingkungan IT Anda dan menyesuaikan layanan agar relevan dengan kebutuhan.
2. Service Operations
Proses deteksi dan mitigasi ancaman siber dilakukan secara berkelanjutan. Anda juga akan menerima laporan rutin serta berkomunikasi langsung dengan tim SOC kami untuk memastikan respons yang cepat dan tepat.
Baca Juga: Apa Itu XDR? Kenali Extended Detection and Response untuk Keamanan Siber Modern
Manfaat Athena MDR untuk Transformasi Digital Organisasi Anda
Transformasi digital membawa banyak peluang, namun juga meningkatkan risiko serangan siber. Athena MDR hadir sebagai solusi yang membantu menjaga keamanan tanpa membebani tim internal. Berikut manfaat utamanya:
1. Mengurangi Dampak pada Bisnis
Athena MDR mampu menekan risiko kebocoran data dengan akurasi deteksi hingga 99%, waktu deteksi rata-rata hanya 30 menit (MTTD), dan waktu respons cepat (MTTR). Kecepatan ini meminimalkan gangguan operasional, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi.
2. Hemat Biaya Tanpa Mengurangi Kualitas
Daripada membangun SOC 24/7 sendiri, Athena MDR memberikan layanan setara perusahaan besar dengan penghematan hingga 70% per tahun. Anda tidak perlu investasi besar untuk alat, staf, dan operasional, namun tetap mendapatkan perlindungan andal dan dukungan ahli.
3. Memastikan Kepatuhan Regulasi
Athena MDR mendukung kepatuhan dengan deteksi real-time, pencatatan detail, serta respons insiden sesuai standar melalui SOC bersertifikat ISO 27001. Ini membantu mengurangi temuan audit dan menjaga kelancaran operasional.
4. Fokus pada Inovasi Bisnis
Dengan Athena MDR yang menangani deteksi dan respons ancaman, tim IT Anda terbebas dari tugas rutin dan notifikasi berlebihan. Hasilnya, mereka bisa fokus pada proyek strategis seperti transformasi digital dan adopsi AI untuk mendorong pertumbuhan.
Transformasi digital memang membuka peluang besar, namun juga meningkatkan risiko serangan siber. Kasus ransomware PDNS membuktikan pentingnya deteksi dan respons cepat agar layanan vital tidak lumpuh.
Solusi seperti Sangfor Athena MDR hadir untuk membantu organisasi menghadapi ancaman ini dengan pemantauan 24/7, analisis cerdas, dan respons instan.
Perkuat Transformasi Digital Organisasi Anda dengan Sangfor Athena MDR
Ancaman siber di era digital kian meningkat, dan organisasi Anda membutuhkan perlindungan menyeluruh. Sangfor Athena MDR hadir untuk memberikan keamanan proaktif dengan teknologi canggih dan dukungan tim ahli.
Kelebihan Sangfor Athena MDR:
- Semua notifikasi ditinjau langsung oleh tim profesional, bukan hanya otomatisasi.
- Platform XDR Sangfor terintegrasi GenAI Security GPT untuk perlindungan modern.
- Customer Success Manager khusus memastikan komunikasi cepat dan jelas.
- Dapat memilih perlindungan sesuai kebutuhan dan anggaran organisasi Anda.
- Perlindungan kelas atas dengan biaya yang lebih terjangkau.
- Setiap ancaman ditangani sesuai konteks dan prosedur internal.
- Review alert dan respons insiden tanpa biaya tambahan.
Hubungi tim Sangfor untuk konsultasi keamanan IT yang tepat bagi organisasi Anda!