Mendengar istilah virtualisasi server, sebagian orang mungkin masih merasa asing. Padahal, tanpa disadari teknologi ini telah menjalankan peran yang menggerakkan berbagai layanan digital di era sekarang.
Berbeda dengan dulu, banyak perusahaan yang kini beralih ke virtualisasi untuk mengurus masalah server. Alasannya beragam, termasuk di antaranya berhubungan dengan masalah kepraktisan. Di era sekarang, server konvensional sudah dianggap kurang praktis karena setiap kebutuhan harus menyiapkan satu server fisik sendiri.
Berangkat dari masalah tersebut, mulai dipakai metode virtualisasi server yang dinilai efektif sekaligus masuk akal secara bisnis. Perlahan, konsep ini pun menjadi standar baru bagi perusahaan-perusahaan di luar sana. Bagi kamu yang ingin tahu lebih jauh tentang virtualisasi server, berikut ulasannya seperti dihimpun dari berbagai sumber.
Apa Itu Virtualisasi Server?
Secara sederhana, virtualisasi server bisa diartikan sebagai cara menjalankan beberapa server secara virtual dalam satu mesin fisik. Tujuannya agar lebih hemat biaya, fleksibel, sekaligus mudah dikelola.
Sebagai perumpamaan untuk memahaminya, kita pakai saja analogi gedung apartemen.
Dalam konteks ini, satu mesin fisik kita ibaratkan sebagai gedung apartemen. Apartemen tersebut memiliki banyak unit yang dihuni keluarga berbeda, namun semuanya berada di tempat yang sama.
Nah, unit di dalam apartemen itu bisa kita sebut sebagai “server virtual” yang masing-masing punya memiliki pintu, dapur, dan privasi sendiri. Meski berada di bawah satu atap dan berbagi pondasi yang sama, mereka tidak perlu takut aktivitasnya terganggu.
Sebab, dalam dunia IT ada lapisan hypervisor yang di sini kita ibaratkan sebagai "pengelola gedung". Tugasnya adalah mengatur agar setiap unit virtual mendapatkan bagian secara adil dari sumber daya utama. Hasilnya, masing-masing penghuni unit apartemen bisa tinggal dengan nyaman tanpa gangguan.
Jenis Virtualisasi Server
Lebih jauh, virtualisasi server terdiri atas beberapa jenis berbeda. Berikut di antaranya yang perlu kamu ketahui.
1. Full Virtualization
Full virtualization adalah metode virtualisasi di mana satu server fisik dapat menjalankan beberapa server virtual yang berdiri sendiri dan terpisah satu sama lain. Setiap server virtual bekerja seolah-olah memiliki perangkat fisiknya sendiri, meskipun sebenarnya berbagi sumber daya yang sama.
Pendekatan ini umum digunakan karena relatif fleksibel dan mudah diterapkan di berbagai lingkungan perusahaan.
2. Paravirtualization
Berbeda dengan full virtualization, pada paravirtualization setiap server virtual menyadari bahwa mereka berbagi sumber daya dengan server lain. Dengan cara ini, sistem dapat mengatur penggunaan sumber daya secara lebih efisien.
Metode ini biasanya dipilih untuk lingkungan tertentu yang membutuhkan koordinasi lebih baik antar server virtual agar kinerja tetap optimal.
3. OS-Level Virtualization (Containerization)
Pada OS-level virtualization, beberapa lingkungan virtual dijalankan menggunakan satu sistem operasi utama yang sama. Pendekatan ini membuat penggunaan sumber daya menjadi lebih ringan dan cepat.
Model ini sering dimanfaatkan ketika perusahaan membutuhkan efisiensi tinggi dan pengelolaan sistem yang lebih sederhana.
Masalah Server Konvensional di Perusahaan
Seiring majunya zaman, kebutuhan perusahaan akan hal-hal digital tak bisa dihindari. Sebagai contoh, ada sistem untuk keuangan, sistem absensi, aplikasi internal hingga website perusahaan. Nah, cara lama yang dulu sering dipakai adalah menggunakan satu server fisik untuk satu kebutuhan
Masalahnya, server fisik ini ibarat seperti rumah besar yang hanya dihuni satu orang. Meski penghuninya cuma satu, rumah tersebut tetap perlu listrik, air, perawatan, dan hal-hal lain. Dalam dunia server, hal ini menunjukan adanya banyak kapasitas yang tidak terpakai, namun tetap memakan biaya.
Selain boros, pengelolaan server konvensional juga cenderung kaku. Apabila tiba-tiba ada kebutuhan baru, perusahaan harus menyiapkan mesin baru. Lagi, prosesnya bisa panjang dari membeli perangkat, pasang, atur, dan memastikan semuanya jalan. Lalu, jika terdapat satu server bermasalah, layanan yang bergantung padanya bisa ikut terganggu.
Ada lagi urusan perawatan. Singkatnya, semakin banyak server fisik, semakin rumit pengelolaannya. Tim IT harus memantau satu per satu, memastikan semuanya sehat, dan siap menghadapi risiko kerusakan. Tentu, bagi perusahaan yang sedang tumbuh, cara ini lama-lama terasa merepotkan.
Beranjak dari sederet masalah penggunaan server konvensional, akhirnya banyak perusahaan yang mulai beralih menggunakan konsep virtualisasi server. Alasannya karena metode tersebut dianggap lebih efektif sekaligus menguntungkan secara bisnis.
Baca juga:
Apa Itu VMware dan Kenapa Banyak Perusahaan Mulai Mencari Alternatifnya?
Contoh Penerapan Virtualisasi di Perusahaan
Pada kehidupan digital sehari-hari, virtualisasi server sebenarnya sudah digunakan secara luas. Hanya saja, terkadang tidak banyak orang yang menyadari atau mengetahuinya. Berikut beberapa contoh penerapannya dalam lingkup bisnis.
1. Konsolidasi Server
Konsolidasi server adalah konsep menggabungkan banyak server fisik ke dalam lebih sedikit mesin fisik, lalu menjalankannya sebagai server virtual. Melihat dari sisi bisnis, metode ini bisa mengurangi kebutuhan perangkat fisik dan mengoptimalkan pemakaian sumber daya.
Sebagai contoh, perusahaan kamu awalnya memiliki 10 server fisik untuk keperluan database. Nah, dengan konsolidasi server, perusahaan bisa menggabungkan 10 server fisik tadi ke dalam 1–2 server fisik saja yang menjalankan server virtual terpisah sesuai fungsinya.
2. Cloud Computing
Metode cloud computing memungkinkan pengguna mengakses server virtual lewat internet tanpa harus memiliki hardware sendiri. Cara ini membuat pengguna cukup memiliki koneksi internet untuk menyimpan, mengakses, atau memproses data secara fleksibel.
Contoh mudah yang kini banyak dipakai adalah penggunaan layanan penyimpanan berbasis cloud seperti Google Workspace. Teknisnya dengan cara data disimpan di server virtual, lalu pengguna bisa mengaksesnya kapan saja tanpa memerlukan hard drive fisik.
3. Testing & Development Environment
Sebagian perusahaan mungkin tidak ingin langsung menerapkan perubahan ke sistem utamanya. Nah, di sini mereka bisa memanfaatkan virtualisasi server guna menciptakan uji coba.
Bersama penggunaan mesin virtual untuk testing, perusahaan bisa menjalankan berbagai hal seperti uji performa aplikasi tanpa khawatir prosesnya mengganggu lingkungan produksi utama. Jika terjadi kesalahan, server virtual bisa dikembalikan ke kondisi awal melalui salah satu fiturnya. Hal ini membuat proses uji coba menjadi jauh lebih efisien sekaligus hemat biaya.
Manfaat Utama Virtualisasi Server
Pada kehadirannya, virtualisasi server menawarkan banyak manfaat bagi para pengguna. Berikut di antaranya:
1. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Satu manfaat utama yang didapat dari virtualisasi server adalah membantu efisiensi sumber daya. Dalam implementasinya, beberapa mesin virtual bisa berjalan cukup dengan satu perangkat fisik saja.
Efisiensi ini bukan cuma soal perangkat, namun juga waktu dan tenaga. Singkatnya, perusahaan tidak perlu mengurus terlalu banyak mesin terpisah. Semuanya bisa dikelola dari satu “perangkat” yang sama.
2. Fleksibilitas dalam Pengoperasian
Umumnya, sebuah bisnis jarang berjalan lurus begitu saja. Terkadang, kamu perlu menyesuaikan kondisi secara cepat dan tepat. Nah, virtualisasi server di sini memberi ruang untuk bergerak lebih fleksibel.
Misal, saat kebutuhan meningkat, server virtual bisa ditambah dengan mudah. Sebaliknya, ketika beban berkurang, jumlahnya dapat disesuaikan kembali. Tentu, perubahan ini lebih cepat dibandingkan menambah atau mengurangi server fisik.
3. Kemudahan Pengelolaan
Manfaat lain dari virtualisasi server adalah kemudahan dalam backup dan recovery. Hal ini memperkecil risiko kehilangan data dan downtime saat muncul gangguan.
Saat mengalami kondisi seperti server tiba-tiba crash, pengguna tak perlu mengulangi proses instalasi dan konfigurasi dari awal. Cukup ambil salinan gambar yang sudah disimpan, lalu restore data agar server berjalan normal kembali.
Alasan Virtualisasi Kini Menjadi Standar IT Modern
Seiring waktu, banyak perusahaan modern beralih mengandalkan sistem digital dalam aktivitas kesehariannya. Hal ini termasuk penggunaan virtualisasi server yang menggantikan metode server konvensional.
Alasannya sendiri cukup beragam. Bukan hanya karena teknologinya canggih, namun fungsi pendekatannya memang selaras dengan kebutuhan bisnis di era sekarang yang mengharuskan serba efisien, fleksibel, dan mudah disesuaikan.
Virtualisasi server juga dianggap mampu membantu perusahaan agar lebih siap menghadapi perubahan. Misal seperti adanya pertumbuhan bisnis, perubahan sistem kerja, atau kebutuhan baru yang muncul secara mendadak.
Berbekal sederet manfaat yang dimiliki, tak heran apabila virtualisasi server kini dianggap sebagai standar dalam pengelolaan IT modern. Bukan hanya berlaku eksklusif untuk perusahaan besar saja, pemakaiannya tetap relevan untuk perusahaan lain yang membutuhkannya.
Virtualisasi server pada dasarnya adalah cara menjalankan beberapa server secara virtual dalam satu mesin fisik agar lebih hemat biaya, fleksibel, dan mudah dikelola. Konsep ini telah banyak digunakan di berbagai perusahaan dan menjadi fondasi penting dalam pengelolaan IT modern.
Memahami virtualisasi server kini bukan lagi hanya urusan tim IT semata. Bagi perusahaan, pendekatan ini juga berkaitan dengan efisiensi operasional dan kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan bisnis di masa depan.
Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai solusi virtualisasi atau ingin mengeksplorasi alternatif VMware, tim dari Sangfor Indonesia siap membantu Anda. Kami menawarkan berbagai solusi yang dirancang untuk mempermudah dan meningkatkan efisiensi operasional bisnis Anda. Hubungi kami di Sangfor Jakarta untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan solusi yang tepat sesuai kebutuhan Anda.