Perkembangan teknologi telah membuat banyak perusahaan mulai beralih ke penggunaan cloud dan menerapkan sistem kerja remote (jarak jauh) dalam operasional sehari-hari. Model kerja ini dinilai lebih fleksibel dan mampu meningkatkan efisiensi biaya, sehingga cukup disukai banyak perusahaan.
Namun, dibalik manfaat tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan, yaitu soal meningkatnya risiko terhadap keamanan data. Akses yang dilakukan dari berbagai lokasi, penggunaan perangkat yang beragam hingga koneksi dari jaringan publik membuat masalah keamanan data jadi jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
Selain menghadapi ancaman siber, perusahaan di Indonesia saat ini juga dihadapkan pada tuntutan kepatuhan terhadap berbagai regulasi terkait keamanan data dan sistem elektronik. Regulasi seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), aturan dari OJK untuk sektor keuangan, serta ketentuan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dari Komdigi membuat perusahaan perlu memastikan bahwa sistem mereka tidak hanya berjalan dengan baik, tetapi juga aman dan dapat diaudit. Karena itu, pendekatan keamanan tidak lagi cukup hanya mengandalkan satu solusi, tetapi perlu strategi yang lebih terintegrasi.
Kebutuhan alat untuk memperkuat sistem keamanan dari berbagai ancaman siber kemudian mendorong banyak perusahaan untuk melirik solusi seperti SASE dan MDR sebagai bagian dari strategi keamanan yang lebih modern dan terintegrasi. Lantas, apa itu SASE dan MDR, serta bagaimana perannya dalam membantu perusahaan memenuhi regulasi keamanan data di Indonesia? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Tantangan Keamanan di Era Cloud dan Remote Work
Banyak perusahaan modern kini menghadapi tantangan baru, khususnya dalam hal keamanan data. Jika dulu keamanan jaringan perusahaan cukup difokuskan pada perlindungan di dalam kantor (perimeter-based security), kini pendekatan tersebut tidak lagi memadai.
Seiring populernya sistem kerja remote (jarak jauh), karyawan bisa mengakses sistem perusahaan dari mana saja dan kapan saja dengan bebas. Kabar buruknya, hal ini memunculkan lebih banyak celah bagi potensi ancaman. Contohnya seperti:
- Akses ilegal atau tidak sah ke sistem perusahaan
- Kebocoran data akibat jaringan yang tidak aman
- Serangan siber seperti phishing dan ransomware
- Penggunaan perangkat pribadi yang tidak terkontrol
Bagi manajemen, risiko ini tentu tak bisa diabaikan karena bisa berdampak langsung pada bisnis. Masalah seperti gangguan operasional, kehilangan data penting hingga kerugian finansial dapat terjadi jika sistem keamanannya tidak dikelola dengan baik.
Baca juga: Hypervisor vs HCI: Apa Bedanya dan Kapan Digunakan oleh Perusahaan
Meningkatnya Tuntutan Kepatuhan Regulasi
Selain risiko yang mengintai seperti di atas, perusahaan kini dihadapkan pada kewajiban kepatuhan regulasi terkait keamanan data. Saat ini, pemerintah Indonesia juga semakin menekankan pentingnya perlindungan data, terutama dengan meningkatnya jumlah kasus kebocoran informasi dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi perusahaan, kepatuhan regulasi bukan sekadar formalitas. Ada konsekuensi nyata jika standar keamanan yang ditetapkan tidak benar-benar terpenuhi. Contohnya seperti:
- Pengenaan sanksi administratif atau denda
- Kerusakan reputasi perusahaan
- Hilangnya kepercayaan pelanggan
- Potensi gangguan operasional
Apa itu Konsep Zero Trust?
Bicara soal keamanan infrastruktur IT, ada satu istilah yang cukup sering didengar, bahkan kini banyak digunakan, yakni Zero Trust. Secara sederhana, konsep Zero Trust ini bisa diartikan "jangan langsung percaya, selalu verifikasi."
Berbeda dengan pendekatan lama yang menganggap semua akses dari dalam jaringan itu aman, Zero Trust menganggap bahwa setiap akses, baik dari dalam maupun luar harus diverifikasi terlebih dahulu. Jadi, semua pengguna, perangkat, dan aktivitas harus melalui proses pengecekan terlebih dahulu sebelum nantinya diberikan akses.
Konsep Zero Trust melihat bahwa ancaman bisa datang dari mana saja. Alhasil, aksesnya diberikan secara terbatas berdasarkan kebutuhan dan hanya setelah identitas serta kondisi perangkat benar-benar terverifikasi.
Konsep ini menjadi sangat relevan di era penggunaan cloud dan sistem kerja remote yang memungkinkan permintaan akses tidak lagi terpusat di satu lokasi. Bersama pendekatan seperti Zero Trust, perusahaan bisa lebih mengontrol siapa yang mengakses, dari mana, dan dalam kondisi seperti apa, sehingga risiko kebocoran data dan serangan siber bisa ditekan secara signifikan.
Peran SASE dalam Mengamankan Akses dan Jaringan
Menanggapi ancaman kebocoran data di tengah masifnya penggunaan cloud dan sistem kerja remote, ada satu solusi cerdas yang menggabungkan keamanan jaringan perusahaan dengan akses berbasis cloud. Solusi yang tepat untuk masalah tersebut adalah Secure Access Service Edge atau dikenal juga SASE.
Melihat ke belakang, konsep SASE mulai diperkenalkan oleh Gartner pada 2019 sebagai respons terhadap perubahan besar dalam cara perusahaan mengakses data dan aplikasi, terutama di era penggunaan cloud dan sistem kerja jarak jauh (remote). Dalam konteks bisnis, SASE bisa membantu perusahaan untuk mengelola sekaligus mengamankan akses ke sistem, terutama bagi karyawan yang bekerja secara remote.
Bersama penerapan SASE dalam infrastruktur keamanan IT, perusahaan dapat memperoleh sejumlah keuntungan. Di antaranya seperti:
1. Keamanan menyeluruh (End-to-End)
SASE memberi perlindungan menyeluruh mulai dari pengguna, aplikasi, data hingga perangkat. Seluruh kontrol keamanan dikelola dalam satu sistem terpusat, sehingga lebih mudah diawasi.
2. Mendukung produktivitas kerja remote
SASE juga memungkinkan akses yang cepat dan tetap aman ke aplikasi, baik yang berbasis cloud maupun internal. Prosesnya tidak harus bergantung pada VPN tradisional yang seringkali menghambat.
3. Operasional jadi lebih sederhana
Dalam proses kerjanya, SASE menggunakan satu platform terpadu membuat pengelolaan sistem menjadi lebih praktis dibandingkan harus mengelola banyak tools terpisah. Proses konfigurasi dan monitoring pun jadi lebih efisien.
4. Lebih hemat biaya
Penggunaan SASE juga dapat mengurangi kebutuhan investasi perangkat keras di lokasi (on-premise). Hal ini tentu bisa menekan biaya operasional dan kebutuhan sumber daya IT di kantor.
5. Fleksibel dan mudah dikembangkan
Bersama implementasi SASE, perusahaan dapat menambah pengguna atau aplikasi baru dengan lebih mudah tanpa mengganggu keamanan maupun kinerja sistem yang sudah berjalan.
Peran MDR dalam Monitoring dan Respon Ancaman 24/7
Kemudian ada juga istilah Managed Detection and Response (lebih dikenal sebagai MDR) dalam infrastruktur keamanan IT. Jika SASE berfokus untuk pengamanan akses dan jaringan, MDR berperan dalam pengawasan dan penanganan ancaman.
Sesuai namanya, MDR memungkinkan perusahaan memiliki sistem monitoring keamanan 24/7 tanpa harus membangun tim keamanan internal yang besar. Dengan pendekatan ini, aktivitas mencurigakan bisa dideteksi lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Di tengah ancaman siber yang meningkat, perusahaan kini bisa memanfaatkan kehadiran MDR. Berikut sejumlah keuntungannya yang bisa didapat:
1. Monitoring keamanan tanpa henti
Berbekal penggunaan MDR, perusahaan dapat memantau aktivitas sistem secara terus-menerus tanpa harus membangun Security Operation Center (SOC) sendiri. Hal ini tentu akan membantu menghemat biaya sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga ahli yang masih cukup langka.
2. Respons ancaman secara cepat
MDR dirancang untuk tidak hanya mendeteksi, tetapi juga langsung merespons ancaman saat itu juga. Fitur ini akan membantu mencegah penyebaran serangan siber sebelum berdampak lebih luas pada operasional bisnis.
3. Deteksi ancaman lebih akurat
Didukung teknologi seperti AI dan pemanfaatan threat intelligence global, MDR mampu mengidentifikasi ancaman dengan lebih cepat dan presisi. Pendekatan ini jauh lebih proaktif dibandingkan metode keamanan konvensional biasa.
4. Fleksibel mengikuti kebutuhan bisnis
Penggunaan MDR juga bisa dengan mudah disesuaikan dengan skala dan kompleksitas infrastruktur IT perusahaan. Entah itu untuk skala kecil maupun besar, kehadirannya tetap relevan dan bisa berkembang seiring pertumbuhan bisnis.
5. Insight keamanan lebih mendalam
MDR juga menyediakan laporan dan analisis yang komprehensif terkait aktivitas sistem dan jaringan. Informasi semacam ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang potensi ancaman, celah keamanan, serta area yang perlu ditingkatkan.
Kombinasi SASE dan MDR untuk Keamanan dan Kepatuhan Regulasi
SASE dan MDR bisa dijadikan kombinasi sempurna untuk memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh. Di satu sisi, SASE siap memastikan akses ke sistem aman sejak awal, sedangkan MDR bertugas memastikan setiap aktivitas tetap diawasi secara berkelanjutan.
Perpaduan SASE dan MDR sangat relevan untuk perusahaan yang ingin meningkatkan keamanan data sekaligus memenuhi tuntutan kepatuhan regulasi dari pemerintah. Bersama pemanfaatan keduanya, perusahaan dapat meminimalkan risiko sekaligus menunjukkan bahwa mereka memiliki standar keamanan yang baik.
Beberapa perusahaan kini dapat mulai mengadopsi pendekatan terintegrasi dari berbagai vendor penyedia SASE dan MDR, termasuk dari Sangfor untuk mengelola keamanan jaringan perusahaan secara lebih sederhana namun tetap efektif.
Bagaimana SASE dan MDR Membantu Perusahaan Memenuhi Regulasi di Indonesia
Dalam beberapa regulasi di Indonesia, perusahaan umumnya diwajibkan untuk memastikan beberapa hal, seperti menjaga keamanan data, mengontrol akses pengguna, memantau aktivitas sistem, serta mampu merespons insiden keamanan dengan cepat.
Dalam praktiknya, kebutuhan tersebut tidak bisa dipenuhi hanya dengan satu solusi saja. Perusahaan memerlukan sistem yang dapat mengamankan akses sekaligus memantau aktivitas secara berkelanjutan.
Di sinilah kombinasi SASE dan MDR menjadi relevan. SASE membantu perusahaan mengamankan akses pengguna dan jaringan dengan pendekatan Zero Trust, sehingga setiap akses harus melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Pendekatan ini membantu perusahaan mengontrol siapa yang mengakses sistem, dari mana akses dilakukan, serta aplikasi apa yang digunakan.
Sementara itu, MDR membantu perusahaan dalam melakukan monitoring keamanan secara 24 jam serta merespons ancaman dengan lebih cepat. Dengan adanya monitoring dan respons yang berkelanjutan, perusahaan dapat lebih cepat mengetahui jika terjadi aktivitas mencurigakan atau potensi pelanggaran keamanan.
Dengan kombinasi keduanya, perusahaan tidak hanya meningkatkan keamanan sistem, tetapi juga lebih siap dalam memenuhi aspek kepatuhan regulasi, terutama yang berkaitan dengan keamanan data, kontrol akses, serta monitoring dan penanganan insiden keamanan.
Baca juga: Strategi Cybersecurity Mengamankan Transformasi Digital
Saatnya Melihat Keamanan sebagai Strategi Bisnis
Keamanan data perusahaan kini bukan lagi sekadar tanggung jawab tim IT, namun sudah menjadi bagian dari strategi bisnis secara keseluruhan. Mengingat adanya peningkatan ancaman dan tuntutan regulasi, perusahaan perlu mengambil pendekatan yang lebih proaktif dan terstruktur.
Solusi mudahnya adalah dengan mengadopsi konsep Zero Trust, serta memanfaatkan SASE dan MDR sebagai langkah strategis untuk menjaga keamanan jaringan. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan tidak hanya mampu mengurangi risiko, tetapi juga membangun kepercayaan dan memastikan keberlangsungan operasional di era serba digital seperti sekarang.