Enkripsi data sangat penting untuk menjaga kerahasiaan dan integritas informasi digital. Di tengah ancaman siber yang terus berkembang, memahami jenis enkripsi data sangat penting untuk perlindungan data sensitif, baik itu pada organisasi maupun perusahaan.

Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

6 Jenis Enkripsi Data dan Manfaatnya untuk Perlindungan Digital

Meningkatnya Kasus Kebocoran Data di Sektor Pemerintah

Kasus kebocoran data di Indonesia makin sering terjadi, termasuk pada sistem informasi pemerintah. Data pribadi masyarakat yang seharusnya aman justru kerap menjadi target peretasan, pencurian identitas, hingga penyalahgunaan akses.

Salah satu contohnya adalah insiden pada aplikasi PeduliLindungi. Pada 19 Mei 2025, domain tersebut diretas dan dialihkan ke situs judi online. Kejadian ini bukan sekadar peretasan domain, tetapi juga memicu efek domino, seperti:

  • Akses ke situs PeduliLindungi sempat dialihkan ke laman judi online, merusak reputasi pemerintah sekaligus menunjukkan kerentanan sistem publik.
  • Kementerian Kesehatan menonaktifkan sementara layanan untuk mencegah dampak lebih jauh, namun insiden ini sudah jadi bukti lemahnya keamanan digital pemerintah.
  • Kejadian ini memperkuat anggapan masyarakat bahwa data sensitif, seperti rekam vaksinasi dan identitas pribadi, tidak sepenuhnya aman.
  • Serangan ini menegaskan perlunya enkripsi kuat, pemantauan real-time, serta kontrol akses ketat agar sistem pemerintah tidak terus jadi sasaran empuk.

Baca Juga: Mengenal Edge Computing: Pengertian, Manfaat, hingga Contohnya

UU PDP: Landasan Perlindungan Data Pribadi di Era Digital

Kasus peretasan pada sistem pemerintah, termasuk serangan ke PeduliLindungi hingga isu pemerasan 8 juta USD, membuka mata publik bahwa infrastruktur digital negara masih lemah.

Di tengah keresahan ini, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) hadir sebagai landasan hukum untuk menjamin keamanan informasi setiap warga.

Berikut isi dari UU PDP tersebut:

  • Pasal 1 ayat 2 UU PDP menegaskan bahwa setiap proses pengelolaan data pribadi wajib melindungi hak konstitusional individu.
  • UU PDP mewajibkan pemerintah bukan hanya membuat sistem digital, tetapi juga memastikan keamanan dan integritas data yang dikelola.
  • UU PDP menginstruksikan penerapan enkripsi, pembatasan akses, serta pemantauan real-time agar data sensitif tidak disalahgunakan.
  • Regulasi ini memberikan dasar hukum untuk menjatuhkan sanksi administratif hingga pidana bagi pihak yang lalai atau menyalahgunakan data.

Enkripsi Data: Solusi Perlindungan dan Informasi di Era Digital

Kasus kebocoran data pemerintah yang dibahas di atas menunjukkan betapa rentannya sistem digital publik jika tidak dilindungi secara memadai. Untuk menjawab tantangan ini, UU PDP menekankan pentingnya perlindungan data sensitif, termasuk penerapan enkripsi.

Enkripsi data merupakan teknologi yang mengubah informasi menjadi bentuk tidak terbaca bagi pihak yang tidak berwenang, sehingga hanya pengguna dengan kunci yang tepat dapat mengaksesnya.

Dengan metode ini, data sensitif seperti identitas, rekam medis, atau informasi keuangan dapat terlindungi dari pencurian, penyalahgunaan, dan akses ilegal.

Penerapan enkripsi menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga integritas dan kerahasiaan informasi, sekaligus mendukung kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.

Apa Saja Jenis Enkripsi Data?

Setiap jenis enkripsi memiliki pendekatan teknis dan karakteristik yang berbeda-beda. Berikut ini enam jenis enkripsi data yang paling umum dan perlu Anda ketahui:

1. Enkripsi Simetris (Symmetric Encryption)

Enkripsi simetris menggunakan satu kunci yang sama untuk proses enkripsi dan dekripsi data.

Karakteristik utama:

  • Cepat dan efisien untuk volume data besar.
  • Kunci harus dibagikan dengan cara yang aman kepada penerima.
  • Digunakan dalam sistem tertutup atau internal.
  • Contoh algoritma: AES (Advanced Encryption Standard), DES (Data Encryption Standard).

2. Enkripsi Asimetris (Asymmetric Encryption)

Enkripsi asimetris menggunakan dua kunci berbeda: satu kunci publik untuk enkripsi dan satu kunci privat untuk dekripsi.

Keunggulan:

  • Tidak perlu berbagi kunci rahasia.
  • Cocok untuk komunikasi terbuka seperti email atau transaksi digital.
  • Digunakan dalam SSL/TLS untuk keamanan internet.
  • Contoh algoritma: RSA (Rivest–Shamir–Adleman), ECC (Elliptic Curve Cryptography).

3. Enkripsi AES (Advanced Encryption Standard)

AES merupakan standar enkripsi simetris yang banyak digunakan secara global karena keamanannya yang tinggi.

Ciri khas:

  • Blok data 128-bit dengan panjang kunci 128, 192, atau 256-bit.
  • Kecepatan enkripsi tinggi dengan efisiensi tinggi.
  • Sering digunakan dalam VPN, enkripsi file, dan sistem keuangan.

4. Enkripsi RSA

RSA merupakan salah satu bentuk enkripsi asimetris yang paling populer.

Kelebihan:

  • Tingkat keamanan tinggi berdasarkan kompleksitas faktorisasi bilangan prima besar.
  • Banyak digunakan dalam kriptografi kunci publik, tanda tangan digital, dan enkripsi email.
  • Umumnya digunakan dalam kombinasi dengan algoritma simetris untuk efisiensi.

5. Enkripsi ECC (Elliptic Curve Cryptography)

ECC adalah algoritma enkripsi asimetris yang menawarkan tingkat keamanan tinggi dengan panjang kunci lebih kecil dibanding RSA.

Keunggulan:

  • Cocok untuk perangkat dengan sumber daya terbatas seperti perangkat IoT.
  • Efisiensi lebih tinggi dalam penggunaan bandwidth dan komputasi.
  • Semakin populer dalam aplikasi modern yang membutuhkan keamanan ringan tapi kuat.

6. Enkripsi End-to-End

Jenis ini memastikan bahwa hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca pesan.

Manfaat utama:

  • Mencegah akses pihak ketiga, termasuk penyedia layanan.
  • Digunakan dalam aplikasi perpesanan dan komunikasi real-time.
  • Mendukung perlindungan privasi dalam komunikasi personal dan profesional.
  • Contoh: Signal Protocol, yang digunakan dalam WhatsApp, Signal, dan Messenger.

Baca Juga: 7 Cara Cek Keamanan Data Perusahaan Anda!

Bagaimana Cara Kerja Enkripsi Data?

Setelah mengetahui jenis-jenisnya, penting untuk memahami bagaimana enkripsi data bekerja. Meskipun teknologi enkripsi berkembang, prinsip dasarnya tetap sama: melindungi informasi dengan mengubahnya menjadi bentuk tidak terbaca bagi pihak yang tidak memiliki kunci.

Berikut tahapan umum cara kerja enkripsi data:

  1. Pengambilan Data Asli (Plaintext): Informasi dikumpulkan dalam bentuk asli sebelum proses enkripsi dilakukan.
  2. Pemilihan Algoritma Enkripsi: Sistem memilih algoritma enkripsi yang sesuai, seperti AES atau RSA.
  3. Penggunaan Kunci Enkripsi: Kunci digunakan untuk mengubah plaintext menjadi ciphertext (data terenkripsi).
  4. Pengiriman atau Penyimpanan Data: Ciphertext dikirim atau disimpan di server, database, atau perangkat.
  5. Dekripsi oleh Penerima: Pihak penerima yang memiliki kunci dapat mengubah ciphertext kembali menjadi bentuk aslinya.

Proses ini dirancang untuk menjaga kerahasiaan informasi, bahkan jika data disadap atau dicuri dalam perjalanannya.

Apa Saja Manfaat Enkripsi Data untuk Perusahaan Anda?

Penerapan enkripsi data tidak hanya penting dari sisi teknis, tetapi juga strategis. Dalam dunia bisnis digital saat ini, data merupakan aset penting yang harus dijaga dari berbagai risiko.

Berikut tujuh manfaat utama enkripsi data bagi perusahaan:

1. Melindungi Informasi Sensitif

Enkripsi berfungsi sebagai garis pertahanan pertama untuk menjaga kerahasiaan data penting milik perusahaan. Informasi seperti data pelanggan, detail transaksi keuangan, hingga dokumen internal sangat rawan terhadap akses tidak sah.

2. Meminimalkan Risiko Kebocoran Data

Meskipun pelaku ancaman berhasil menembus sistem atau mendapatkan akses fisik ke perangkat, data yang terenkripsi akan tetap tidak dapat dibaca tanpa kunci dekripsi.

Ini menjadikan enkripsi sebagai penghalang efektif terhadap penyalahgunaan data yang telah dicuri. Strategi ini sangat penting dalam mengurangi dampak dari insiden keamanan.

3. Mendukung Kepatuhan Regulasi

Banyak regulasi perlindungan data, seperti GDPR di Eropa, HIPAA di Amerika Serikat, hingga UU PDP di Indonesia, mewajibkan pengamanan data melalui metode teknis seperti enkripsi.

Dengan menerapkan enkripsi, perusahaan dapat memenuhi standar kepatuhan yang ditetapkan oleh regulator. Hal ini membantu mencegah sanksi hukum dan menjaga kredibilitas perusahaan di mata publik.

4. Menjaga Reputasi Perusahaan

Kebocoran data dapat berdampak besar terhadap reputasi sebuah perusahaan, terutama jika melibatkan informasi pelanggan. Ketika pelanggan merasa datanya tidak aman, kepercayaan mereka pun bisa hilang.

Enkripsi berperan sebagai langkah preventif yang menunjukkan bahwa perusahaan serius dalam menjaga privasi dan keamanan informasi.

5. Mendukung Keamanan Komunikasi Internal

Dalam komunikasi internal, seperti pengiriman email, pertukaran dokumen, atau kolaborasi daring, enkripsi memastikan bahwa informasi tidak disadap pihak ketiga.

Ini sangat penting terutama bagi divisi yang menangani strategi, keuangan, atau informasi sensitif lainnya.

6. Meningkatkan Keamanan Cloud dan Akses Jarak Jauh

Penggunaan layanan cloud dan kerja jarak jauh telah menjadi bagian dari operasional modern. Dalam konteks ini, data bergerak melewati berbagai jaringan yang mungkin tidak sepenuhnya aman.

Enkripsi memberikan perlindungan tambahan dengan memastikan data tetap terlindungi meskipun dikirim melalui jaringan publik atau digunakan di luar perimeter perusahaan.

7. Membantu Deteksi dan Respons terhadap Insiden Keamanan

Sistem enkripsi modern dapat dikombinasikan dengan teknologi keamanan lain, seperti Data Loss Prevention (DLP) dan Endpoint Detection and Response (EDR).

Kolaborasi ini memungkinkan identifikasi dini terhadap anomali serta respons otomatis ketika ditemukan potensi pelanggaran.

Baca Juga: 10 Jenis Malware yang Harus Anda Waspadai dan Cara Mencegahnya

Enkripsi tidak hanya menjaga data dari ancaman siber, tetapi juga membantu organisasi dan perusahaan mematuhi regulasi sekaligus mempertahankan integritas bisnis di era digital.

Untuk perlindungan yang lebih menyeluruh sekaligus efisiensi operasional, solusi Sangfor Athena SASE bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda.

Tingkatkan Keamanan Data Anda dengan Sangfor Athena SASE!

Untuk mendukung perlindungan data yang optimal di seluruh jaringan dan perangkat, Sangfor hadir dengan solusi Athena SASE (Secure Access Service Edge) yang menggabungkan keamanan jaringan dan konektivitas modern dalam satu platform terintegrasi.

SASE Sangfor menawarkan cara cerdas dan terukur untuk menjaga performa digital Anda tetap optimal, di mana pun pengguna dan aplikasi berada.

Keunggulan SASE Sangfor:

  • Keamanan komprehensif dengan agen all-in-one yang mencakup firewall, enkripsi, pengendalian akses, dan lainnya.
  • Monitoring pengalaman digital secara menyeluruh melalui Sangfor Digital Experience Monitoring yang mendukung produktivitas pengguna.
  • Efisiensi biaya dengan pengurangan TCO hingga 80%, berkat arsitektur terintegrasi yang memangkas kebutuhan infrastruktur tambahan.

Solusi ini cocok untuk perusahaan yang menginginkan konektivitas aman dan konsisten di berbagai lokasi, termasuk kantor cabang, pekerja remote, maupun integrasi cloud.

Kontak Tim Sangfor sekarang juga untuk mengeksplorasi bagaimana Sangfor Athena SASE dapat menjadi fondasi keamanan digital modern bagi organisasi dan perusahaan Anda!

Search

Related Articles

Cyber Security

Hati-Hati Terjebak Website Phishing! Begini Cara Deteksi dan Mencegahnya

Date : 08 Dec 2025
Read Now
Cyber Security

5 Cara Cegah Serangan Malware di Era AI untuk untuk Lindungi Data Perusahaan

Date : 01 Dec 2025
Read Now
Cyber Security

Waspadai Risiko AI! Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era AI dan Digitalisasi

Date : 10 Nov 2025
Read Now

See Other Product

Cyber Command - NDR Platform - Sangfor Cyber Command - Platform NDR 
MDR TCO Calculator - User Input Page
Endpoint Secure
MDR TCO Calculator - Report Page
Sangfor Athena SWG - Secure Web Gateway
Sangfor Zero Trust Data Protection