Ringkas artikel blog ini dengan AI:


Penggunaan smart glasses kini semakin banyak dijumpai, termasuk di lingkungan kerja. Beberapa model bahkan tampak menyerupai kacamata biasa, namun sudah dilengkapi alat canggih yang memungkinkan penggunanya merekam, mengambil gambar, hingga berinteraksi dengan asisten digital.

Terlepas dari kecanggihannya, penggunaan smart glasses kini juga menjadi perhatian dari sisi privasi dan keamanan. Sejumlah tempat bahkan telah mempertimbangkan pembatasan perangkat ini karena khawatir penggunaannya mengancam privasi orang lain.

Kekhawatiran serupa juga berlaku di lingkungan kerja, termasuk kantor perusahaan yang menyimpan banyak informasi penting. Lalu, jika ada karyawan yang memakai smart glasses ke kantor, seberapa aman data perusahaan dari risiko kebocoran tanpa disadari? Simak penjelasannya berikut.

Penggunaan Smart Glasses Makin Marak di Lingkungan Kerja

Smart glasses sebenarnya bukan teknologi yang sepenuhnya baru. Perangkat wearable ini sudah biasa digunakan dalam aktivitas perusahaan. Misalnya seperti membantu teknisi, pelatihan, pekerjaan di lapangan, hingga mendukung produktivitas.

Masalahnya, perkembangan terbaru kini membuat kemampuan smart glasses semakin canggih sekaligus mengancam. Beberapa model baru bahkan bisa melakukan pengenalan wajah atau objek, membantu penerjemahan percakapan, membuat transkripsi, hingga mengambil informasi berdasarkan apa yang dilihat dan didengar pengguna.

Di satu sisi, kemampuan-kemampuan tadi memang bisa memberi manfaat untuk pekerjaan tertentu. Namun, fitur-fitur yang dimiliki smart glasses itu kini juga membawa risiko bagi keamanan data perusahaan. Terlebih jika perangkat tersebut digunakan tanpa aturan yang jelas di lingkungan kerja.

Beranjak dari situ, penggunaan smart glasses di lingkungan kerja saat ini tidak lagi hanya dianggap tren atau gaya. Pengguna perangkatnya bisa semakin diawasi karena dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan data perusahaan.

Baca juga:

Risiko Keamanan Data yang Perlu Diperhatikan

Penggunaan smart glasses di lingkungan kerja dapat memunculkan sejumlah risiko terhadap keamanan data perusahaan. Kemampuan perangkat ini untuk merekam gambar dan suara, serta memproses informasi membuat penggunaannya perlu diperhatikan, terutama ketika dibawa ke area kerja yang menyimpan informasi sensitif. Risiko semacam ini jadi bagian dari strategi mengamankan transformasi digital yang perlu diperhatikan banyak perusahaan saat ini.

Salah satu resikonya adalah perekaman tanpa disadari. Kamera dan mikrofon pada smart glasses bisa menangkap gambar, percakapan, dokumen, atau layar komputer yang ada di sekitarnya.

Kondisi ini bisa menjadi masalah ketika smart glasses sengaja dimanfaatkan oleh oknum untuk merekam informasi perusahaan tanpa sepengetahuan pihak lain. Rekaman tersebut kemudian dapat disalahgunakan atau tersebar kepada pihak yang tidak berkepentingan, terutama jika berisi informasi sensitif seperti data pelanggan, dokumen internal, atau pembahasan bisnis.

Risiko lainnya berupa adanya akses jaringan yang tidak terkontrol. Smart glasses yang terhubung ke jaringan perusahaan tanpa pengaturan keamanan ketat bisa menjadi celah bagi sistem. Karena itu, perusahaan perlu memastikan setiap perangkat yang terhubung ke jaringan internalnya sudah memenuhi standar keamanan yang ditetapkan — mirip dengan prinsip kontrol lalu lintas yang dibahas dalam peran proxy server dalam keamanan enterprise, di mana akses dari perangkat luar disaring sebelum masuk ke sistem inti.

Selain risiko terhadap data dan akses jaringan, penyalahgunaan smart glasses juga dapat berdampak pada reputasi terhadap perusahaan. Dari sisi pelanggan, jika sampai terjadi kebocoran data atau pelanggaran privasi, perusahaan bukan hanya menghadapi masalah keamanan, tetapi juga bakal kehilangan kepercayaan dari mereka.

Langkah yang Bisa Dilakukan Perusahaan untuk Mitigasi Risiko Penyalahgunaan Smart Glasses

Menghadapi risiko penyalahgunaan smart glasses di tempat kerja, perusahaan tak harus langsung melarang penggunaannya. Satu hal penting adalah membuat aturan dan standar keamanan yang jelas. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Buat Aturan Penggunaan yang Jelas

Perusahaan bisa menentukan kapan dan di mana smart glasses boleh digunakan. Aturannya juga harus ditegaskan tentang fitur apa saja yang bisa dipakai di area tertentu, terutama ruang yang menyimpan informasi sensitif.

Cara termudahnya adalah menetapkan zona larangan. Kebijakan ini bisa mencakup tempat-tempat penting, seperti ruang rapat, area penelitian dan pengembangan, pusat data, dan lain yang punya kebutuhan keamanan tinggi. Tetapkan juga standar sanksi yang tegas agar tidak ada yang berani atau mencoba melanggarnya.

2. Batasi Akses ke Jaringan Perusahaan

Tidak semua perangkat pribadi perlu diberikan akses langsung ke jaringan internal. Perusahaan dalam hal ini dapat menerapkan aturan akses berdasarkan jenis dan kebutuhan penggunaannya, sehingga perangkat yang tidak memenuhi standar keamanan tak boleh mengakses sistem penting.

Sebagai contoh, perusahaan bisa memisahkan jaringan untuk perangkat pribadi menggunakan pendekatan reverse proxy dan forward proxy untuk mengatur lalu lintas data, atau menerapkan kontrol akses agar perangkat yang tak memenuhi standar keamanan tidak dapat mengakses data penting. Dengan cara ini, bahkan ketika oknum mencari celah, dampaknya tetap bisa dibatasi dan tidak langsung membuka akses ke seluruh jaringan perusahaan.

3. Evaluasi Teknologi dan Infrastruktur

Bagi perusahaan yang memang ingin menggunakan smart glasses untuk mendukung pekerjaan, kesiapan infrastruktur IT juga perlu diperhatikan. Pengelolaan perangkat, jaringan, keamanan data, dan sistem pendukung perlu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Evaluasi ini penting agar perangkat tambahan seperti smart glasses tidak membuka celah baru bagi sistem perusahaan. Jika diperlukan, bisa juga mempertimbangkan infrastruktur dan keamanan dalam satu platform agar pengelolaan perangkat, jaringan, dan keamanan dapat dilakukan dengan lebih baik.

4. Edukasi Karyawan

Aturan keamanan mungkin akan lebih sulit diterapkan jika karyawan tidak memahami risikonya. Karena itu, perusahaan perlu memberikan pemahaman tentang kapan smart glasses boleh digunakan, informasi apa yang tidak boleh direkam, dan konsekuensi jika perangkat digunakan di luar aturan.

Baca juga:

Bukan Berarti Smart Glasses Harus Dilarang

Mempertimbangkan berbagai risiko yang ada, bukan berarti setiap perusahaan wajib melarang karyawan menggunakan smart glasses. Teknologi ini sebenarnya juga punya manfaat jika digunakan dalam konteks yang tepat.

Contohnya, perusahaan dapat menggunakan smart glasses untuk membantu teknisi melihat panduan kerja tanpa harus membuka laptop, membantu proses inspeksi, atau memberikan instruksi kepada pekerja di lapangan. Dalam beberapa pekerjaan, kemampuan alat ini memang terbukti membantu efisiensinya.

Namun, persoalannya adalah tentang bagaimana perusahaan menentukan batas penggunaan smart glasses yang aman. Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menunggu sampai terjadi masalah atau kebocoran data untuk mulai membuat aturan, melainkan menyiapkan kebijakan dan standar keamanan sejak dini.

Jadi, persoalan smart glasses di tempat kerja bukan hanya soal boleh atau tidak boleh digunakan. Satu hal yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mengatur penggunaan perangkat tersebut agar tetap mendukung pekerjaan tanpa menambah risiko terhadap keamanan data.

Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan aturannya didukung pemahaman karyawan yang memadai. Dengan begitu, penggunaan smart glasses tetap bisa memberi manfaat untuk pekerjaan, sementara risiko seperti perekaman informasi sensitif, akses jaringan yang tidak terkontrol, dan pelanggaran privasi dapat diminimalkan.

Menghadapi makin beragamnya jenis perangkat yang terhubung ke jaringan kantor, perusahaan butuh infrastruktur IT yang bisa memberikan kontrol dan keamanan memadai, bukan cuma aturan di atas kertas. Sudah banyak platform yang membantu mengelola jaringan, sistem, dan akses perangkat secara lebih terintegrasi, termasuk pendekatan seperti SASE dan MDR yang ditawarkan Sangfor untuk membantu perusahaan mengamankan akses dari berbagai jenis perangkat. Namun, pilihannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing perusahaan.

FAQ: Risiko Smart Glasses di Tempat Kerja

Risiko utamanya adalah perekaman gambar, suara, atau dokumen tanpa disadari, serta akses jaringan yang tidak terkontrol jika perangkat terhubung ke sistem internal tanpa standar keamanan yang jelas.

Tidak harus. Perusahaan bisa tetap mengizinkan penggunaannya asal ada aturan jelas soal kapan, di mana, dan fitur apa saja yang boleh dipakai, terutama di area yang menyimpan informasi sensitif.

Perusahaan bisa menetapkan zona larangan di area sensitif, membatasi akses jaringan untuk perangkat pribadi, dan tetap mengizinkan penggunaannya di area kerja yang memang terbantu oleh perangkat ini, seperti untuk teknisi lapangan.

Langkah paling mendasar adalah membuat aturan penggunaan yang jelas dan mengedukasi karyawan soal risikonya, sebelum mempertimbangkan pembatasan teknis yang lebih ketat.

Search

Related Articles

Cyber Security

Two Evolving Ransomware Tactics and How Sangfor Athena EPP Responds

Date : 26 Oct 2026
Read Now
Cyber Security

The eMudhra Certificate Compromise: What Happened and Why the Internet Is on High Alert

Date : 21 Oct 2026
Read Now
Cyber Security

Keamanan OT di Tahun 2026: Melindungi Teknologi Operasional di Era Konvergensi Jaringan TI dan OT

Date : 19 Oct 2026
Read Now

See Other Product

Sangfor Omni-Command
Replace your Enterprise NGAV with Sangfor Endpoint Secure
SASE ROI Calculator - Assess Sangfor SASE’s Total Economic Impact
Sangfor Athena XDR - Extended Detection and Response
Athena SASE - Secure Access Service Edge
Sangfor Athena NGFW - Next Generation Firewall