Ringkas artikel blog ini dengan AI:
Ancaman serangan siber ke Indonesia bukan lagi sekadar potensi risiko — datanya menunjukkan lonjakan yang signifikan dan menyasar berbagai sektor bisnis. Mengingat data-data penting perusahaan kini banyak bergantung pada sistem dan layanan digital, gangguan atau akses tidak sah terhadap sistem bukan hanya berpotensi membocorkan informasi sensitif, tetapi juga menghambat aktivitas dan operasional bisnis.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian bagi perusahaan di Indonesia, terutama ketika pola dan jumlah ancamannya terus meningkat. Dari sini, mereka perlu memahami jenis serangan yang berpotensi muncul dan kesiapan sistem yang digunakan untuk menghadapinya.
Lantas, seperti apa gambaran ancaman siber di Indonesia saat ini, dan sejauh mana perusahaan perlu memperkuat kesiapan keamanannya? Berikut ulasannya yang bisa disimak.
Serangan Siber ke Indonesia Naik Pesat
Adanya peningkatan ancaman siber di Indonesia terlihat dari jumlah serangan yang terdeteksi sepanjang tahun ini. Melansir Fortune Indonesia, laporan platform intelijen ancaman siber nasional milik PT Prosperita Sistem Indonesia, AwanPintar.id, menunjukan sekitar 257,98 juta serangan siber menyasar Indonesia selama Semester I 2026. Angka ini telah meningkat 93,33% dibandingkan periode yang sama pada 2025 ketika jumlah serangannya tercatat mencapai 133.439.209 serangan.
Data terkait juga menunjukkan adanya perubahan pola serangan. Salah satunya terlihat dari serangan untuk mendapatkan hak akses administrator yang naik ekstrem dari 2,76% di Semester I 2025 menjadi 43,65% pada Semester I 2026. Artinya, serangannya kini tidak lagi hanya berfokus pada gangguan, tetapi upaya mendapatkan akses dan kendali yang lebih besar terhadap sistem.
Di sisi lain, ada juga upaya pencurian informasi yang ikut meningkat. Dalam kategori Attempted Information Leak, angkanya naik dari 4,66% menjadi 13,97% atau meningkat 9,31% jika dibandingkan semester I 2025. Targetnya pun beragam, termasuk berbagai informasi sensitif mulai dari akun, data klien, informasi kartu kredit, dan lainnya.
Gambaran serupa ikut terlihat dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Diberitakan Gizmologi, Indonesia telah dihantam 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Kondisinya masih berlanjut pada 2026 dengan catatan 1,52 miliar serangan hanya dalam periode 1 Januari hingga 15 April 2026.
Ancaman siber yang dihadapi juga beragam, mulai dari pencurian data pribadi, penipuan online hingga peretasan sistem. Sasarannya pun tidak hanya perusahaan, tetapi juga lembaga pemerintah, layanan publik, dan berbagai sektor penting lainnya.
Data dari AwanPintar.id dan BSSN tadi mungkin punya periode atau metode pengukuran yang berbeda sehingga tidak tepat dibandingkan secara langsung. Namun, keduanya bisa memberi gambaran bahwa serangan siber di Indonesia sangat tinggi dan perlu menjadi perhatian bagi perusahaan-perusahaan yang semakin bergantung pada teknologi.
Baca juga:
- Strategi Cybersecurity Mengamankan Transformasi Digital
- Reverse Proxy vs Forward Proxy: Kenali Perbedaan dan Fungsinya dalam Keamanan Jaringan
- Kantor Cabang Kebanyakan, dan Jaringan Sering Lemot? Yuk, Kenalan dengan SD-WAN
Apa Artinya bagi Pelaku Bisnis atau Organisasi?
Meningkatnya serangan siber tak bisa dianggap remeh oleh perusahaan. Risikonya tidak hanya muncul ketika data pelanggan atau informasi perusahaan dicuri, tetapi juga saat sistem yang dipakai untuk menjalankan bisnis ikut mengalami gangguan.
Bayangkan saja, ketika pelaku serangan siber berhasil masuk ke sistem dan menghambat aktivitas bisnis. Dampaknya tak cuma menjadikan data bocor atau akses ke aplikasi terganggu, tetapi juga layanan kepada pelanggan yang terhenti atau produktivitas karyawan yang menurun akibat sistem yang mereka gunakan untuk bekerja tidak berjalan semestinya.
Dalam kondisi tertentu, perusahaan bahkan bisa terkena kerugian finansial karena pelaku serangan meminta tebusan dengan nominal yang besar. Selain itu, pemulihan sistem setelah dijebol hingga audit keamanan lanjutannya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Risiko lain yang bisa muncul adalah rusaknya reputasi perusahaan atau organisasi. Saat data pelanggan bocor karena serangan siber, reputasi perusahaan di mata pelanggan bisa anjlok. Karena merasa tidak lagi aman, pelanggan mungkin juga bakal beralih ke kompetitor yang dianggap lebih bagus keamanannya.
Pada kondisi seperti ini, keamanan siber tidak lagi hanya menjadi urusan tim IT. Mengingat potensi resikonya yang lebih luas sampai mengganggu jalannya operasional, perusahaan perlu menempatkan keamanan sistem sebagai bagian dari pengelolaan bisnis secara keseluruhan. Persiapan menghadapi potensi serangan perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan operasional.
Langkah Dasar yang Bisa Mulai di Cek untuk Kesiapan Keamanan
Dalam dunia siber, mungkin belum ada sistem yang bisa menjamin risiko serangan menjadi nol. Maka dari itu, pendekatan yang lebih realistis adalah melihat seberapa siap perusahaan mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri ketika terjadi insiden. Salah satunya bisa dengan memeriksa hal-hal dasar untuk persiapan keamanannya seperti di bawah ini.
1. Periksa Siapa Saja yang Memiliki Akses
Karyawan sering dianggap sebagai salah satu bagian yang jadi titik lemah dalam keamanan siber. Tak jarang, pelaku menyasar akun atau akses karyawan dengan phising atau bentuk serangan lain yang kemudian digunakan untuk masuk ke sistem perusahaan.
Risikonya bakal semakin besar ketika akun yang diretas punya akses ke banyak sistem atau data penting. Karena itu, perusahaan perlu memeriksa kembali siapa saja yang memiliki akses, serta sistem atau akses apa yang dapat mereka gunakan. Selain melakukan edukasi untuk karyawan, perusahaan juga dapat memberi lapisan perlindungan tambahan untuk akun seperti multi-factor authentication (MFA).
2. Pastikan Sistem dan Aplikasi Selalu Diperbarui
Celah keamanan pada sistem dan aplikasi bisa menjadi jalan masuk bagi pelaku serangan siber. Karena itu, perusahaan perlu memastikan sistem operasi, aplikasi, server, perangkat jaringan, dan perangkat lunak lainnya selalu mendapatkan pembaruan keamanan secara berkala.
Hal ini penting karena celah keamanan yang sudah diketahui biasanya dapat menjadi sasaran lagi ketika belum benar-benar ditangani. Pemeriksaan rutin akan membantu perusahaan menemukan sistem yang perlu diperbarui lagi atau punya kerentanan untuk dibobol.
3. Perkuat Perlindungan di Jaringan
Setelah memastikan sistem selalu diperbarui, perusahaan juga perlu memperhatikan lalu-lintas yang keluar atau masuk ke jaringan. Salah satu perlindungan dasar yang dapat digunakan adalah firewall yang akan membantu menyaring akses berdasarkan aturan keamanan yang ditentukan. Bagi perusahaan yang masih memakai firewall konvensional, ada baiknya memahami kapan firewall biasa perlu diganti NGFW agar perlindungan jaringan tetap relevan dengan ancaman terkini.
Namun, penggunaan firewall saja tidak cukup untuk melindungi seluruh lingkup digital perusahaan. Aturan yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan sistem, aplikasi, dan kebutuhan jaringan yang digunakan. Kemudian, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan kriteria firewall masih relevan.
4. Perlindungan Data
Perlindungan sistem perlu dibarengi dengan keamanan data yang disimpan dan digunakan perusahaan. Langkahnya bisa lewat enkripsi atau mengubah data menjadi bentuk yang tidak mudah dibaca oleh pihak yang tidak memiliki akses yang sesuai.
Selain enkripsi, perusahaan juga perlu memiliki backup untuk data penting. Backup menjadi bagian krusial ketika terjadi kerusakan sistem maupun serangan yang membuat data utama tidak dapat digunakan.
5. Pantau Aktivitas yang Tidak Biasa
Dalam beberapa kasus, pelaku serangan siber akan masuk terlebih dahulu dan mencoba bergerak di dalam jaringan sebelum melakukan aksi yang lebih besar. Di sini, perusahaan perlu waspada dan punya kemampuan mendeteksi aktivitas yang tak biasa, termasuk lewat peran proxy server dalam keamanan enterprise untuk memantau lalu lintas jaringan. Tim perlu memiliki visibilitas terhadap login mencurigakan, perubahan hak akses, aktivitas jaringan, serta perilaku lain yang berbeda dari kondisi normal.
Semakin cepat aktivitas tersebut diketahui, semakin besar kesempatan perusahaan untuk mengambil tindakan sebelum dampaknya meluas. Misalnya, ada login dari lokasi yang tidak biasa, percobaan akses berulang, perubahan hak akses secara tiba-tiba, atau aktivitas transfer data dalam jumlah besar. Hal-hal ini memang tidak selalu berarti serangan, tetapi dapat menjadi tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.
6. Siapkan Solusi Jika Insiden Benar-Benar Terjadi
Kenyataannya, tidak ada satu pun sistem yang bisa menjamin perusahaan sepenuhnya terbebas dari serangan siber. Jadi, perusahaan perlu menyiapkan prosedur yang jelas sebagai antisipasi apabila insiden serangan benar-benar terjadi.
Prosedurnya dapat mencakup siapa yang akan bertanggung jawab, bagaimana akses yang terdampak diamankan, serta bagaimana proses pemulihan dilakukan. Berbekal langkah pencegahan sejak awal, perusahaan tidak perlu lagi menentukan solusi mendadak ketika menghadapi serangan.
7. Catat Hasil Audit dan Tindak Lanjut
Setelah berbagai aspek keamanan diperiksa, hasilnya juga perlu didokumentasikan. Catatan tersebut bisa berupa temuan, potensi risiko, sistem yang terdampak, serta langkah perbaikan yang harus dilakukan.
Satu hal yang tidak kalah penting, hasil audit sebaiknya tidak berhenti sebagai laporan. Setiap temuannya tetap perlu tindak lanjut yang jelas agar proses evaluasi benar-benar menghasilkan perbaikan pada keamanan perusahaan, apalagi seiring munculnya serangan siber AI yang makin sulit dihentikan dan menuntut kewaspadaan lebih tinggi.
Baca juga:
- Karyawan Pakai Smart Glasses ke Kantor, Data Bisnis Anda Aman Nggak?
- Kalau Listrik Padam Serentak, Sistem IT Bisnis Anda Bakal Bertahan Berapa Lama?
Jangan Tunggu Serangan Terjadi untuk Evaluasi Keamanan
Lonjakan serangan siber di Indonesia menjadi alarm bahaya yang menunjukan ancaman digital semakin tinggi. Tak cuma menjadi tanggung jawab tim IT, hal ini perlu mendapat perhatian dari pemangku kebijakan di perusahaan atau organisasi agar lebih waspada dan bersiap untuk segala kemungkinan.
Keamanan perusahaan tidak cukup hanya dengan memasang teknologi, lalu menganggap seluruh risiko telah selesai. Evaluasi sebaiknya segera dimulai dengan melihat kondisi infrastruktur secara menyeluruh dan mengenali risiko-risiko yang muncul.
Dalam tahap ini, perusahaan juga dapat mengevaluasi penyedia solusi keamanan, termasuk dari penyedia seperti Sangfor yang menerapkan pendekatan infrastruktur dan keamanan dalam satu platform sesuai kebutuhan dan strategi keamanan yang ingin diterapkan. Caranya bukan mencari sebanyak mungkin produk keamanan, tetapi memastikan setiap lapisan punya fungsi yang jelas dan bisa bekerja dengan optimal.
FAQ: Kesiapan Keamanan Siber Perusahaan
Berdasarkan data AwanPintar.id, serangan untuk mendapatkan akses administrator naik ekstrem, begitu juga upaya pencurian informasi seperti data akun, data klien, hingga informasi kartu kredit.
Dampaknya bisa berupa gangguan operasional, kerugian finansial akibat tebusan atau biaya pemulihan, hingga rusaknya reputasi perusahaan di mata pelanggan.
Perusahaan bisa mulai dari memeriksa siapa saja yang memiliki akses, memastikan sistem selalu diperbarui, memperkuat perlindungan jaringan, melindungi data lewat enkripsi dan backup, hingga memantau aktivitas yang tidak biasa.
Semakin ketat regulasi perlindungan data, perusahaan dituntut punya sistem keamanan yang bisa mendukung kepatuhan sekaligus mendeteksi ancaman lebih awal, misalnya lewat pendekatan SASE dan MDR untuk keamanan data.
Idealnya dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah insiden terjadi. Hasil audit juga perlu ditindaklanjuti secara konsisten agar benar-benar memperbaiki celah keamanan yang ditemukan.